SULAWESI BARAT — Keputusan Alibaba untuk melarang Claude Code di lingkungan internalnya merupakan respons langsung terhadap kekhawatiran keamanan siber perusahaan. Alat coding berbasis AI dari Anthropic ini dinilai memiliki mekanisme yang dapat mengumpulkan data pengguna secara terselubung, terutama yang berasal dari China.
Anthropic, perusahaan di balik Claude, sebenarnya sudah melarang perusahaan China dan entitas asing yang dimiliki oleh perusahaan China untuk menggunakan model AI mereka. Namun, celah akses ilegal masih banyak terjadi. Untuk menutup celah ini, Anthropic disebut-sebut telah menyematkan sebuah versi khusus Claude Code yang mampu mengidentifikasi pengguna China secara rahasia.
Thariq Shihipar dari Anthropic dalam unggahan di X menjelaskan bahwa fitur tersebut adalah "eksperimen yang kami luncurkan pada bulan Maret yang dimaksudkan untuk mencegah penyalahgunaan akun dari penjual ulang yang tidak sah dan melindungi dari distilasi." Distilasi sendiri adalah praktik melatih model AI menggunakan keluaran dari model AI lain, yang sering dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan kekayaan intelektual.
Shihipar menambahkan, "Tim telah menerapkan mitigasi yang lebih kuat sejak saat itu dan kami sebenarnya sudah berniat untuk menghapus fitur ini sejak lama."
Alih-alih mengambil risiko dengan alat pihak ketiga, Alibaba memerintahkan karyawannya untuk beralih menggunakan Qoder, alat coding AI yang dikembangkan secara internal oleh perusahaan. Langkah ini memastikan bahwa seluruh data pengembangan perangkat lunak tetap berada di dalam ekosistem Alibaba dan tidak bocor ke pihak luar.
Klasifikasi Claude Code sebagai perangkat lunak berisiko tinggi oleh Alibaba menunjukkan betapa seriusnya perusahaan teknologi China dalam melindungi data internal mereka, terutama di tengah ketegangan teknologi antara AS dan China. Bagi pengembang di Alibaba, ini berarti mereka harus segera migrasi ke Qoder sebelum batas waktu 10 Juli.
Meskipun larangan ini berlaku internal di Alibaba, kasus ini menjadi pengingat penting bagi pengembang dan perusahaan teknologi di Indonesia. Ketergantungan pada alat AI buatan luar negeri, terutama yang berasal dari perusahaan AS, membawa risiko keamanan data yang tidak bisa diabaikan.
Perusahaan rintisan dan developer Tanah Air yang menggunakan Claude Code disarankan untuk meninjau ulang kebijakan privasi dan keamanan data mereka. Jika Anthropic saja bisa menyematkan fitur "mata-mata" di alat coding-nya, bukan tidak mungkin praktik serupa bisa terjadi pada layanan AI lainnya.
Kasus ini juga memperkuat tren adopsi alat AI buatan lokal. Alibaba memilih Qoder, sementara di Indonesia, beberapa perusahaan rintisan mulai mengembangkan model AI sendiri untuk mengurangi ketergantungan pada platform asing.
Berikut adalah rangkaian peristiwa yang mengarah pada larangan Alibaba terhadap Claude Code:
Bagi para profesional IT di Indonesia, perkembangan ini layak dicermati. Keputusan Alibaba bisa menjadi preseden bagi perusahaan teknologi besar lainnya di Asia untuk lebih selektif dalam memilih alat pengembangan berbasis AI. Keamanan data kini bukan lagi sekadar fitur tambahan, melainkan syarat mutlak dalam memilih perangkat lunak.